Langsung ke konten utama

Rindu Cinta

Tuhan, entah mengapa hatiku kini berdetak lebih dari biasanya. Getarannya halus namun tampak begitu nyata. Beresonansi menciptakan rasa indah dalam hati. Alunannya bersimponi dalam nyanyian damai khas rindu.

Tuhan, apakah aku jatuh cinta? Jatuh cinta pada sosok yang bahkan tak berwujud dalam khayal. Entah siapa, tapi aku merasa dia begitu dekat. Dia semakin mendekat.
Dia. Dia. Dia.
Sosok imajiner dalam imajinasiku. Dalam nyata ataupun terlelap.
Dia. Dia. Dia.
Sosok yang ku harap menjadi imam dalam hidupku.
Dia. Dia. Dia.
Bersamanya untuk mencintai-Mu.

Tuhan, apakah benar aku sedang jauh cinta? Atau mungkin aku hanya sedang merindukan cinta? Merindukan sosok yang nanti akan aku nyatakan cinta. Keduanya tak dapat ku bedakan. Semuanya sama. Atau mungkin hanya terlihat sama. 

Tuhan, jika benar aku sedang jatuh cinta. Biarkanlah cintaku bermuara kepada-Mu. Karena bagiku, tak ada cinta selain bersandar kepada cinta-Mu. Cinta, yang dengannya aku semakin mencintai-Mu. Cinta bersyarat. Cinta karena cinta kepada-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadarlah Duhai MAkhluk Bernama Manusia

Dia hanya menggertak. Belum semarah Krakatau di masa lampau. Namun manusia telah luluh-lantak dibuatnya. Merapi, satu makhluk diantara ribuan milyar makhluk-Nya. Namun mampu membuat manusia tak berdaya dibuatnya. Air laut Mentawai menggeliat. Pesisir habis terkikis. Walau tak sehebat geliat saudaranya di negeri serambi mekah Namun tetap, manusia luluh-lantak dibuatnya. Tsunami, hanya riak kecil makhluk-Nya. Namun kembali manusia tanpa daya dibuatnya. Manusia, adakah kau mau memahaminya? Engkau hanyalah makhluk LEMAH tanpa daya. Namun kesombonganmu di atas takdirmu sebagai manusia. Berjalan mu membusungkan dada. Engkau lupa, bahwa engkau hanya makhluk hina yang akan kembali ke tanah. Sadarlah. Cukup sudah alam menunjukkan kebencian terhadap arogan mu. Cukup sudah alam muak dengan sikap mu. Saatnya kembali. Tugas mu hanya mengabdi bukan malah semakin menjadi-jadi. Ingat asal mu, ingat tempat kembali mu.

Cukup Ar-Rahman mu menjadi Mahar ku

Mengapa harus Ar-Rahman? Pikiran Ahmad melalang buana mencari kira-kira jawabannya. Ar-Rahman adalah syarat hapalan yang harus ia penuhi bila hendak melamar Aisha, seorang gadis anak salah satu ustad di desa ujung ibu kota. Itu permintaan Aisha. Begitu Ustad Amir, ayah Aisha, menerangkan. Bila memang Nak Ahmad berkenan, kini giliran ibu Aisha yang angkat bicara, datanglah lagi ke sini dua minggu lagi untuk menyetor hapalannya. Namun bila Nak Ahmad tidak datang kesini pada hari yang sudah ditentukan, maka kami anggap Nak Ahmad tidak menerimanya syarat itu. Ahmad hanya tersenyum gamang mendengar permintaan yang aneh menurutnya itu. Ada-ada saja keluarga ini. Gerutunya dalam hati. Setelah mengiyakan, ia pamit pulang. Rasanya tak betah lama-lama dalam suasana yang kaku seperti itu. Ahmad masih berpikir sambil menyetir mobilnya. Kendaraan roda empat berwarna silver itu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos rintik-rintik hujan yang kian menderas. Membawanya kembali ke gemerlapnya ibu ko...

Saksikanlah Aku Seorang Istri Mujahid

Suasana pagi itu tampak tak begitu biasanya. Matahari tak kelihatan sedari tadi, padahal jam telah menunjukkan pukul 10.00. Awan kelabu kehitam-hitaman bergelayut enggan untuk pergi mengundang rinai hujan yang jatuh abadi sejak semalam. Di sebuah ruang tamu pada rumah berlantai dua itu, Ahmad duduk di depan Aisha, calon istrinya, wajahnya berat menanggung beban pikirannya, raut kesedihan sangat terlihat tapi berusaha ia tahan-tahan. "Kapan berangkatnya?" akhirnya suara serak Aisha yang hampir-hampir tak terdengar memecah senyap, matanya melukis bulir mutiara bening yang perlahan jatuh, ia menangis meski tak bersuara. Mukanya terus saja menunduk sedari tadi. "Dua hari lagi" tercekat Ahmad menjawab berat. Tak mampu Ia melihat ke arah Aisha. Ia tahu Akhwat yang sudah lama Ia kagumi itu sedang menangis. Aisha, memang akhwat yang sering meneteskan air mata, tapi itu bukan bentuk kelemahan imannya, air mata itu berasal dari kelembutan hatinya. "Kalau begitu, ...