Langsung ke konten utama

Postingan

MOS and D’School !!!

Ini tentang kisah ku enam tahun silam. Dimana masa-masa aku masih imut dahulu (walaupun sekarang masih tetap imut haha). SMA. Terdampar di Masa Orientasi Siswa, MOS. Hari pertama, hari yang seharusnya digunakan untuk “cari muka” pada kakak tingkat dengan mencitrakan segudang kebaikan, harus kugunakan sebaliknya. Terlambat. Kata itu yang menjatuhkan image -ku di mata mereka. Lebih dari setengah jam. Sungguh parah untuk seorang siswa baru di masa orientasi. Dengan muka yang dingin memucat, sudah barang tentu karena kicauan sang kakak pendamping, ku awali hari pertama ku dengan mengambil sampah-sampah dari guguran daun pepohonan di sekitar sekolah. Itu sebagai hukuman atas keterlambatan ku. Fiuhhh... Hari pertama memasuki ”neraka”, itulah pikiran ku saat itu. Hahaha,,, pikiran yang sungguh payaah bukan? -_-” Hari itu kami menghabiskan waktu dengan acara baris-berbaris dan menyorakkan yel-yel yang kami buat sendiri. Ditambah mendengarkan celotehan kakak tingkat tentang peraturan-peratu...

Syuhada Kecil, Anak ku

Malam semakin pekat. Dibalut dingin yang hampir-hampir membekukan sum-sum tulang. Sunyi. Hawa kematian masih menggelayut di langit kota. Gaza. Kota itu kini laksana kota mati. Hening tanpa suara berselimut bau anyir darah. Israel kembali melakukan aksi biadabnya. Bom-bom menukik tajam menghantam apa saja. Meluluhlantakkan gedung-gedung. Merenggut nyawa-nyawa kecil tak berdosa. Tumbang sebagai syuhada diiringi takbir keluarganya. Di sebuah lorong yang sempit lagi pengap. Bertemankan cacing dan tikus. Bergelimangan genangan air bekas hujan. Gelap, tak ada cahaya. Dua sosok tubuh lemah duduk bersender di dinding lorong. Saling berpelukkan. Napasnya tersengal ketakutan. Badan keduanya menggigil tersengat dinginnya angin malam. Sangat kontras dengan kehidupan di bumi lain yang sedang nikmat tidur di kasur yang empuk. Bantal permadani. Berselimut mimpi. Indah. Di sini, tanah yang tergenang itulah sebagai alas tidur. Bantal mereka adalah tangan-tangan yang penuh luka. Mimpi mereka adalah ket...

I’m a Palestinian

“Alhamdulillah, dia telah menunaikan kewajibannya.” Bisiknya serak namun tegas. Air matanya menetes, bangga. Senyumnya mengembang. Hatinya bergemuruh, mengalunkan syukur tiada henti. Muhammad Luthfy Al-Farisy, dua puluh dua tahun. Anak semata wayang telah syahid, insyaAllah. Tiada kebahagiaan tertinggi seorang ibu selain mendengar anaknya syahid membela agamanya. Surat dari Palestina itu menjadi bukti anaknya telah tiada. Subhanallah, ketika kematiannya, tubuhnya mengeluarkan wangi yang semerbak dan darahnya terus mengalir. Begitu isi lanjutan surat itu. Tak bisa menahan haru, air mata Nisa perlahan menetes. Pikirannya yang mulai rapuh kembali mem- flashback video kehidupan dua puluh empat tahun yang lalu, saat ia menjadi relawan ke Negeri Para Syuhada, Palestina. Waktu dimana Allah mempertemukannya dengan seorang mujahid yang kemudian menjadi suaminya. Perjalanan takdir yang sungguh luar biasa meski tak berlangsung lama. Harus berakhir, saat ia mengandung Luthfy satu bulan. Masih ...

Cinta dan Nafsu

Cinta itu adalah cahaya. Penerang hati yang dulu gulita. Penunjuk jalan yang tadi buta. Penyemangat jiwa yang lalu hampa. Cinta itu adalah tempaan. Mengubah hitam menjadi putih. Mengubah pasir menjadi kilauan mutiara. Mengubah sendu menjadi suka cita. Cinta itu adalah anugerah. Berasal dari Maha Pecinta dengan segala cinta. Menembus lorong waktu dan rasa. Menyembul penuh merona dalam degup penuh irama. Tapi sebenar-benarnya cinta itu adalah ujian Menguji cinta seorang hamba kepada Tuhan-nya. Ujian dari dua pilihan. Mencintai-Nya atau mencintai-nya? Aku tahu, dalam hati azzam kuat tentu memilih-Nya. Namun, adakah amal menuju kepada-Nya atau kepada-nya? Aah Hati, kau pun tahu, cintaku kepada-nya karena-Nya. Tak pelak lagilah karena akhlak dan agama-nya. Duhai Nafsu, sungguh cinta mu menyesatkan. Kau balut kebusukan atas dasar cinta karena-Nya. Kau bertopeng akhlak dan agama, menjerumuskan cinta yang suci dari-Nya. Pantas jika ku sebut dirimu pengecut yang bers...

Untuk Istriku Tersayang

istri sholehah Istriku. Saat akad telah ku ucap, resmilah kau jadi milik ku. Keegoisan aku dan kamu akan melebur menjadi kita. Tabir rahasia ku dan rahasia mu lenyaplah sudah. Kurang ku akan kau tutup dengan lebih mu. Begitu aku dengan mu. Ketidaksempurnaan ku akan sempurna dengan adanya kau bersama ku. Tapi istriku, sebagaimana kapal yang berlayar di laut lepas. Tak selamanya angin membawa berita persahabatan. Ombak pun menerjang tak pernah mengucap salam. Sebagai nahkodanya, aku tentu tak akan sanggup mengendalikan kapal seorang diri. Ku butuh engkau walau hanya sekedar mengelap peluh. Ku butuh kita agar mampu menghadapi badai bersama. Istriku, Tatkala aku sakit, sesungguhnya engkaulah obat yang Allah kirim untuk ku. Ketika aku lelah, sebenarnya engkau tempat istirahatku. Saat aku terjatuh, sejujurnya engkaulah pembangkit semangat ku. Di mata mu ada ketenangan dari peliknya kehidupan. Di senyuman mu terdapat penawar dari racun ketakutan. Pada sentuhan mu ada ...

Menanti "mu"

Sebagaimana kegagalan awal dari kesuksesan. Tangisan pun adalah awal dari kebahagiaan. Melepaskan cinta, untuk menggenggam cinta baru yang lebih baik di mata Tuhan. Percaya, akan tiba saatnya kuncup bunga cinta akan mekar menghiasi gaun hati bersemat indah sebuah nama. dia yang terlahir mempesona yang pandangannya menyejukkan mata. Walau entah kapan dan dengan siapa. Cukuplah sekarang hanya Dia yang Tahu. Tugas ku hanya menantinya, Menanti dia yang telah Dia janjikan dalam kitab kehidupan. Menanti dengan berbingkai solehah agar menjadi sebaik-baik harta untuknya. Dalam sabar dan harap, dalam keluh dan mengadu. Tugas ku hanyalah setia, walau burung camar tak berhenti menggoda. Karena aku percaya, aku ada sebab dia telah tercipta. Tuhan… Tuhan… Tuhan… Rintihan hati ku memanggil-Mu. ku yakin Kau tahu bahasa diam ku. Biduk rindu yang menggebu, ku titipkan kepada-Mu. Di akhir pengharapan, jaga dia untuk ku.

Allah, Jaga Ayahku

"Hallo, assalamu'alaikum" suara indah di seberang sana mengucapkan salam. Aku berjingkrak senang. Setelah beberapa kali telponku tak di angkat baik dari HP ayah atau pun ibu, akhirnya terhubung juga. "Wa'alaikumussalam" jawabku lega. "Apa kabar bu?" "Baik, alhamdulillah" "Ayah gimana kabarnya?" tanyaku lagi seakan tak memberi kesempatan ibuku bertanya balik. "Alhamdulillah baik juga. Ayah sedang siap-siap mau kondangan tuu" jawab ibu. "Oo, alhamdulillah" balasku lega. iyaa, aku tahu sepupu jauhku memang sedang menikah hari ini. "Masak apa bu hari ini?" "Rendang" "Waah, pengeeeen" teriakku manja. "Hehe, Iyaa, ntar kalo pulang ibu masakin" "Hehe.. Asyik" hampir begitulah obrolanku tiap di telpon, tak jauh-jauh dari makanan. Tapi, telpon ku kali ini agak berbeda. Mimpiku 2 malam terakhir ini membuat hatiku tak tenang, mimpi ayahku sakit dan tak bisa ...