Langsung ke konten utama

Harapan Terakhir?

Dulu…
Aku tak tahu, mengapa aku bisa mencintaimu.
Apa yang ada pada dirimu hingga mampu membuat merona dalam hati ku.
Jika pun aku menginginkan kesolehanmu, masih banyak orang lain yang lebih dari mu.
Aah, sebenarnya siapa diri mu beraninya bermain-main dalam keangkuhan pikiranku
Terus ku pikir, hingga aku pun lelah.

Tapi akhirnya aku mengerti.
Aku mencintai mu bukan karena kesolehan mu, tapi hanya karena engkau berusaha untuk menjadi ikhwan soleh.
Aku tetap mencintai mu meski cara mu sering membuat ku menangis dan terluka karena ku tahu yang kau lakukan semata-mata menginginkan kebaikan ada pada ku.
Aku masih tetap mengharapkanmu walaupun sekarang kau tak pernah memberi harapan padaku karena ku tahu kau tak ingin aku berharap selain kepada Tuhan ku.
Dan aku pun tahu, cinta ku terlarang pada mu karena tiada ikatan halal antara aku dan diri mu.
Tapi siapa yang mampu menolak cinta ketika dia datang begitu tiba-tiba tanpa mengucap salam masuk ke dalam hati ku dan tetap bertengger walau rasa sakit itu menderaku?
Aku ingin melupakan mu, tapi tetap tak ada indikasi bahwa usaha ku berhasil.

Aku pasrah.
Dan ku akui aku masih tetap mencintai mu.
Ucapan tersirat ku pun, tetap menginginkan kau kembali.
Lupakan masa lau yang kelam, yaa, masa lalu yang membuatku ingin membenci mu.
Sekarang yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk menjemput kedatangannya.
Dan tahu kah dirimu, bila yang ingin ku jemput adalah kamu.

Tapi, kini kau pergi.
Aku hanya tersenyum, walau mataku menangis.
Yaa, hanya bisa tersenyum dan menangis.
Pergilah...
Karena kau sendiri yang bilang akan menetralkan hati mu.
Pergilah...
Karena kau sendiri yang mau menghilangkan diriku dalam memori hati dan pikiran mu.
Semoga aku juga bisa seperti mu, semoga saja.............

Tuhan, apakah benar-benar ini pertanda terputusnya harapan terakhirku???
Hiks......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadarlah Duhai MAkhluk Bernama Manusia

Dia hanya menggertak. Belum semarah Krakatau di masa lampau. Namun manusia telah luluh-lantak dibuatnya. Merapi, satu makhluk diantara ribuan milyar makhluk-Nya. Namun mampu membuat manusia tak berdaya dibuatnya. Air laut Mentawai menggeliat. Pesisir habis terkikis. Walau tak sehebat geliat saudaranya di negeri serambi mekah Namun tetap, manusia luluh-lantak dibuatnya. Tsunami, hanya riak kecil makhluk-Nya. Namun kembali manusia tanpa daya dibuatnya. Manusia, adakah kau mau memahaminya? Engkau hanyalah makhluk LEMAH tanpa daya. Namun kesombonganmu di atas takdirmu sebagai manusia. Berjalan mu membusungkan dada. Engkau lupa, bahwa engkau hanya makhluk hina yang akan kembali ke tanah. Sadarlah. Cukup sudah alam menunjukkan kebencian terhadap arogan mu. Cukup sudah alam muak dengan sikap mu. Saatnya kembali. Tugas mu hanya mengabdi bukan malah semakin menjadi-jadi. Ingat asal mu, ingat tempat kembali mu.

Cukup Ar-Rahman mu menjadi Mahar ku

Mengapa harus Ar-Rahman? Pikiran Ahmad melalang buana mencari kira-kira jawabannya. Ar-Rahman adalah syarat hapalan yang harus ia penuhi bila hendak melamar Aisha, seorang gadis anak salah satu ustad di desa ujung ibu kota. Itu permintaan Aisha. Begitu Ustad Amir, ayah Aisha, menerangkan. Bila memang Nak Ahmad berkenan, kini giliran ibu Aisha yang angkat bicara, datanglah lagi ke sini dua minggu lagi untuk menyetor hapalannya. Namun bila Nak Ahmad tidak datang kesini pada hari yang sudah ditentukan, maka kami anggap Nak Ahmad tidak menerimanya syarat itu. Ahmad hanya tersenyum gamang mendengar permintaan yang aneh menurutnya itu. Ada-ada saja keluarga ini. Gerutunya dalam hati. Setelah mengiyakan, ia pamit pulang. Rasanya tak betah lama-lama dalam suasana yang kaku seperti itu. Ahmad masih berpikir sambil menyetir mobilnya. Kendaraan roda empat berwarna silver itu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos rintik-rintik hujan yang kian menderas. Membawanya kembali ke gemerlapnya ibu ko...

Saksikanlah Aku Seorang Istri Mujahid

Suasana pagi itu tampak tak begitu biasanya. Matahari tak kelihatan sedari tadi, padahal jam telah menunjukkan pukul 10.00. Awan kelabu kehitam-hitaman bergelayut enggan untuk pergi mengundang rinai hujan yang jatuh abadi sejak semalam. Di sebuah ruang tamu pada rumah berlantai dua itu, Ahmad duduk di depan Aisha, calon istrinya, wajahnya berat menanggung beban pikirannya, raut kesedihan sangat terlihat tapi berusaha ia tahan-tahan. "Kapan berangkatnya?" akhirnya suara serak Aisha yang hampir-hampir tak terdengar memecah senyap, matanya melukis bulir mutiara bening yang perlahan jatuh, ia menangis meski tak bersuara. Mukanya terus saja menunduk sedari tadi. "Dua hari lagi" tercekat Ahmad menjawab berat. Tak mampu Ia melihat ke arah Aisha. Ia tahu Akhwat yang sudah lama Ia kagumi itu sedang menangis. Aisha, memang akhwat yang sering meneteskan air mata, tapi itu bukan bentuk kelemahan imannya, air mata itu berasal dari kelembutan hatinya. "Kalau begitu, ...