Langsung ke konten utama

Ayah

Ku pandangi raut letih itu..
Senyum hambar mu menenangkan ku..
Entah kekuatan apa yang ada pada wajah mu..
Hingga menarik simpati ku untuk memperhatikan mu..
Ayah, begitu lah ku memanggil mu..
Tarikan berat napas mu begitu jelas terdengar pertanda dirimu tak segagah dulu..
Tapi, kedua tangan mu tak pernah lelah mengais karunia-Nya demi aku tanggung jawab mu..
Sampai ketika terlihat mata mu sembab. "tak tidurkah ayah semalam?"
Anakku, mata sembab ini akan berbalas saat melihatmu dapat hidup layak dan mendapat pendidikan tinggi.
Hanya itu jawaban mu yang telak mengena di hatiku.

Anakku, jangan dirimu seperti ayah yang fakir ilmu. Raih lah cita, ayah mendukung mu walau harus bermandi darah. Karena tak ada yang ayah bisa harapkan kecuali melihat diri mu bahagia..
Itu lah sekelumit kisah yang ia toreh menghujam dalam nadi ku..
Ya Allah.. Hiks :'(

Ayah, rindu aku memeluk tubuh ringkih mu..
Yang selalu berjuang menghidupi ku.
Yang tak pernah lelah berdoa untuk ku.
Yang jiwa mu selalu terpaut kepada ku..

Ayah, maafkan aku..
Cintaku kadang berlumur kedurhakaan pada mu.
Walau ku tau, tak pernah ada benci di hati mu.
Tapi, Aku cinta ayah..
Walau aku tak tau bagaimana cara menunjukkannya..

Ya Allah, jaga ayahku..
Lindungilah ia..
Hanya Engkau yang mampu membalaskan kebaikannya..
Karena tak ada yang ku punya selain Engkau..
Selain mengharap belas kasih Engkau..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadarlah Duhai MAkhluk Bernama Manusia

Dia hanya menggertak. Belum semarah Krakatau di masa lampau. Namun manusia telah luluh-lantak dibuatnya. Merapi, satu makhluk diantara ribuan milyar makhluk-Nya. Namun mampu membuat manusia tak berdaya dibuatnya. Air laut Mentawai menggeliat. Pesisir habis terkikis. Walau tak sehebat geliat saudaranya di negeri serambi mekah Namun tetap, manusia luluh-lantak dibuatnya. Tsunami, hanya riak kecil makhluk-Nya. Namun kembali manusia tanpa daya dibuatnya. Manusia, adakah kau mau memahaminya? Engkau hanyalah makhluk LEMAH tanpa daya. Namun kesombonganmu di atas takdirmu sebagai manusia. Berjalan mu membusungkan dada. Engkau lupa, bahwa engkau hanya makhluk hina yang akan kembali ke tanah. Sadarlah. Cukup sudah alam menunjukkan kebencian terhadap arogan mu. Cukup sudah alam muak dengan sikap mu. Saatnya kembali. Tugas mu hanya mengabdi bukan malah semakin menjadi-jadi. Ingat asal mu, ingat tempat kembali mu.

Cukup Ar-Rahman mu menjadi Mahar ku

Mengapa harus Ar-Rahman? Pikiran Ahmad melalang buana mencari kira-kira jawabannya. Ar-Rahman adalah syarat hapalan yang harus ia penuhi bila hendak melamar Aisha, seorang gadis anak salah satu ustad di desa ujung ibu kota. Itu permintaan Aisha. Begitu Ustad Amir, ayah Aisha, menerangkan. Bila memang Nak Ahmad berkenan, kini giliran ibu Aisha yang angkat bicara, datanglah lagi ke sini dua minggu lagi untuk menyetor hapalannya. Namun bila Nak Ahmad tidak datang kesini pada hari yang sudah ditentukan, maka kami anggap Nak Ahmad tidak menerimanya syarat itu. Ahmad hanya tersenyum gamang mendengar permintaan yang aneh menurutnya itu. Ada-ada saja keluarga ini. Gerutunya dalam hati. Setelah mengiyakan, ia pamit pulang. Rasanya tak betah lama-lama dalam suasana yang kaku seperti itu. Ahmad masih berpikir sambil menyetir mobilnya. Kendaraan roda empat berwarna silver itu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos rintik-rintik hujan yang kian menderas. Membawanya kembali ke gemerlapnya ibu ko...

Saksikanlah Aku Seorang Istri Mujahid

Suasana pagi itu tampak tak begitu biasanya. Matahari tak kelihatan sedari tadi, padahal jam telah menunjukkan pukul 10.00. Awan kelabu kehitam-hitaman bergelayut enggan untuk pergi mengundang rinai hujan yang jatuh abadi sejak semalam. Di sebuah ruang tamu pada rumah berlantai dua itu, Ahmad duduk di depan Aisha, calon istrinya, wajahnya berat menanggung beban pikirannya, raut kesedihan sangat terlihat tapi berusaha ia tahan-tahan. "Kapan berangkatnya?" akhirnya suara serak Aisha yang hampir-hampir tak terdengar memecah senyap, matanya melukis bulir mutiara bening yang perlahan jatuh, ia menangis meski tak bersuara. Mukanya terus saja menunduk sedari tadi. "Dua hari lagi" tercekat Ahmad menjawab berat. Tak mampu Ia melihat ke arah Aisha. Ia tahu Akhwat yang sudah lama Ia kagumi itu sedang menangis. Aisha, memang akhwat yang sering meneteskan air mata, tapi itu bukan bentuk kelemahan imannya, air mata itu berasal dari kelembutan hatinya. "Kalau begitu, ...